Lompat ke konten

Launching Madrasah Talenta MAN 2 Blitar Semakin Epik dengan Drama Kolosal “Nayagenggong Gugat”

Blitar, 19 Agustus 2026 — Launching Program Madrasah Talenta MAN 2 Blitar pada Rabu (19/8/2026) berlangsung semarak dan sarat makna. Selain menjadi momentum pengesahan Program Madrasah Talenta, kegiatan ini juga menjadi panggung bagi peserta didik untuk menunjukkan kreativitas dan talenta mereka melalui beragam pertunjukan seni. Salah satu penampilan yang paling menarik perhatian adalah drama kolosal bertajuk “Nayagenggong Gugat”.

Kegiatan launching tersebut disahkan oleh Drs. H. Sugiyo, M.Pd., selaku Kabid Pendma Kemenag Kanwil Jawa Timur, dan turut dihadiri H. Lesus Nur P., Akh., M.Pd., selaku Kasi Pendma Kemenag Kabupaten Blitar. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bagian penting dalam menandai dimulainya Program Madrasah Talenta MAN 2 Blitar sebagai ikhtiar madrasah dalam memberikan ruang tumbuh bagi berbagai potensi peserta didik.

Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan suguhan seni yang menggambarkan keberagaman talenta siswa. Alunan gamelan dari Tim Karawitan MAN 2 Blitar membuka nuansa pertunjukan dengan sentuhan budaya nusantara. Setelah itu, sejumlah kelas talenta menampilkan kemampuan terbaik mereka melalui pertunjukan tari dan seni suara yang dikemas secara kreatif, atraktif, dan penuh energi.

Namun, perhatian penonton semakin tertuju pada drama kolosal “Nayagenggong Gugat”. Pertunjukan tersebut tidak sekadar menyajikan hiburan, tetapi juga membawa pesan reflektif melalui kisah yang sarat simbol dan kritik sosial.

Dalam kisah tersebut, “Naya” dimaknai sebagai simbol kebijaksanaan yang juga dapat merepresentasikan seorang pemimpin, sedangkan “Genggong” berarti besar atau agung. Dengan demikian, Nayagenggong dapat dimaknai sebagai simbol kebijaksanaan seorang pemimpin agung. Akan tetapi, kebijaksanaan tersebut kemudian digugat ketika dalam praktiknya mulai terasa tidak lagi mencerminkan kebijaksanaan yang sesungguhnya.

“Nayagenggong Gugat” hadir sebagai sebuah sindiran atau satir terhadap sebuah kebijaksanaan yang terkesan mulai tidak bijak. Gugatan tersebut lahir karena terdapat “duri dalam daging”—sesuatu yang berada di dalam sistem, tetapi justru menimbulkan luka dan keresahan di hati rakyat. Melalui simbol dan alur dramatiknya, peserta didik mengajak penonton untuk merenungkan kembali makna kepemimpinan, kebijaksanaan, keadilan, serta keberpihakan kepada masyarakat.

Drama kolosal tersebut menunjukkan bahwa seni di lingkungan madrasah tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan refleksi terhadap kehidupan. Pesan-pesan yang disampaikan dikemas secara artistik sehingga kritik tidak hadir secara frontal, melainkan melalui simbol, cerita, gerak, musik, dan karakter yang dimainkan oleh para peserta didik.

Penampilan “Nayagenggong Gugat” sekaligus menjadi bukti bahwa Program Madrasah Talenta MAN 2 Blitar memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan seni sekaligus daya pikir kritis. Talenta tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan prestasi, tetapi juga untuk membangun kepekaan terhadap lingkungan sosial dan kehidupan masyarakat.

Melalui launching Program Madrasah Talenta ini, MAN 2 Blitar semakin meneguhkan komitmennya untuk menjadi madrasah yang mampu menemukan, mengembangkan, dan mengarahkan setiap potensi peserta didik. Dengan semangat “Temukan Bakatmu, Raih Prestasimu, Wujudkan Mimpimu”, madrasah berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencetak generasi berprestasi, tetapi juga generasi yang kreatif, kritis, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya. (Tim Branding Madrasah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *